Senin, 23 Januari 2012

IBRAHIM AS SOSOK PEMIMPIN SEJATI




Oleh : H. Syamsul Balda, SE, MM, MBA.


Kaum Muslimin, jama'ah shalat 'Iedul Adhha, yang dimuliakan Allah,

Hari ini adalah hari 'Id, hari untuk bertakbir dan mengagungkan asma

Allah.


Kaum Muslimin yang berbahagia,

Dengan takbir kita menghiasi hari 'Id ini, dengan takbir pula kita

memulai shalat, adzan, iqamat, peperangan, dan segala aktivitas

kehidupan. Saat memulai shalat kita mengucapkan Allahu Akbar. Saat

menyembelih hewan qurban  kita mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar. Kita

senantiasa bertahlil, bertakbir, dan bertahmid, serta menjadikan syiar

kita adalah takbir: Allahu Akbar.

Dengan kalimat ini kita bisa menggetarkan sanubari musuh di medan

peperangan. Dengan kalimat ini pula kita mengobarkan semangat kaum

muslimin untuk berjuang melawan segala bentuk kezhaliman. Pada waktu

perang Badar, kaum muslimin meraih kemenangan gilang gemilang, karena

syiar mereka adalah Allahu Akbar. Pada perang Ain Jalut, syiar kaum

muslimin juga Allahu Akbar. Setiap kemenangan yang diraih di medan juang

selalu dikobarkan oleh kalimat Allahu Akbar.


Jama'ah Shalat 'Iedul Adhha yang dicintai Allah,

Hari ini, berjuta-juta hamba Allah menanggalkan segala tanda kebesaran,

melepaskan segala atribut kebanggaan, menggantikannya dengan pakaian

kesederhanaan. Hari ini, berjuta-juta umat Muhammad Rasulullah saw

membanjiri lapangan-lapangan, masjid-masjid untuk mengingat, menyebut

dan mengagungkan asma Allah, seraya mengenang sejarah abadi hamba-hamba

Allah yang mukhlis, yang menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Allah

'Azza wa Jalla. Hilang semua tabir penghalang, runtuh seluruh tembok

pemisah. Si Kaya dan si Miskin, kulit putih dan kulit berwarna, Barat

dan Timur, pejabat dan rakyat, suku dan bangsa apa saja, semua menyatu

dalam kalimat Allahu Akbar. Semua bergegas memenuhi panggilan Yang Maha

Besar:

"Kupenuhi panggilan-Mu, Yaa Allah, kupenuhi panggilan-Mu. Kupenuhi

panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Kupenuhi panggilan-Mu. Sungguh,

segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, dan seluruh Kekuasaan

(adalah milik-Mu pula). Tidak ada sekutu bagi-Mu."

Jama'ah shalat 'Id yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita mendengar dan menyaksikan, sebagian kaum muslimin tidak

dapat mengucapkan kalimat talbiyyah di tanah Haram. Tidak dapat

mengucapkan takbir, tahlil dan tahmid dengan tenang. Bahkan

bertahun-tahun mereka harus mengucapkan dengan caranya yang khas, karena

kondisi mereka yang tidak memungkinkan. Itulah saudara-saudara kita yang

kini tengah berjihad memperjuangkan eksistensi kehidupannya dari ancaman

kezhaliman kaum kuffar, mempertahankan nyawa, harta, keluarga, dan tanah

tempat mereka bersujud kepada Allah di bumi Palestina, Chechnya,

Kashmir, bahkan di Ambon dan Maluku, di bumi Indonesia, tanahair kita

sendiri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Mereka tidak dapat thawaf dan berlari-lari kecil di Mas'a, tetapi

justru  berlarian panjang menyelamatkan diri dari kejaran musuh yang

akan membantainya. Mereka tidak bisa membangun kemah di Mina dan Arafah,

tetapi mendirikan kemah-kemah darurat di kamp-kamp pengungsian. Mereka

tidak dapat melontar jumrah di Mudzalifah, tetapi bahkan dilempari batu

dan dihujani tombak. Mereka tidak mampu menyembelih hewan qurban, tetapi

justru menjadi korban pembantaian yang sadis, biadab dan tak berperi

kemanusiaan. Mereka bukannya mengucurkan darah hewan kambing, sapi, atau

kerbau, tetapi mereka harus menumpahkan darah dan menyerahkan nyawa

anak, isteri dan dirinya sendiri sebagai tebusan atas tempat sujud

mereka.

Dan di sini, di lapangan ini, kita hanya bisa terpana tanpa melakukan

apa-apa. Kita hanya bisa mengurut dada dan berdo'a tanpa ada tindakan

nyata. Kita hanya bisa berharap tanpa memiliki kejelasan sikap.

Sementara, dari hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit nyawa mereka

terancam melayang. Ya Allah, yang Maha Pengampun, ampunilah

hamba-hambamu ini yang telah berdiam diri menyaksikan kezhaliman.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam tiga tahun terakhir hingga saat ini, kita tengah mengalami

musibah nasional. Perekonomian negara kita telah memasuki suatu fase

yang sangat tidak stabil dan masa depan yang sama sekali tidak menentu.

Setelah mengalami masa sulit karena tingginya tingkat inflasi, ekonomi

Indonesia kembali mengalami resesi yang mendalam, tingkat pengangguran

yang parah, ditambah tingginya tingkat suku bunga riil serta fluktuasi

nilai tukar yang tidak sehat, menyusul ulah raksasa spekulan valuta

asing, George Soros, seorang tokoh Yahudi Amerika, yang telah

menyebabkan anjloknya nilai tukar mata uang Rupiah  terhadap Dollar

Amerika. Dampaknya tentu saja kehancuran sendi-sendi perekonomian negara

kita. Puluhan proyek-proyek raksasa terpaksa mengalami penjadwalan

ulang, ratusan pengusaha gulung tikar, harga-harga barang dan jasa

termasuk barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan tak

terkendali. Pasar modal mengalami keterpurukan yang belum pernah terjadi

dalam sejarah. Kehidupan rakyat kecil bertambah sulit, biaya hidup

semakin tinggi, jutaan buruh di PHK dan di'rumah'kan, harga-harga bahan

kebutuhan pokok semakin tak terjangkau, mahasiswa dan pelajar tidak bisa

melanjutkan studinya karena tak mampu lagi membayar biaya pendidikan

yang melonjak.

Meskipun proses penanggulangan dan penyembuhan dari penyakit-penyakit

itu kini sedang berlangsung, namun berbagai ketidak pastian masih saja

membayang-bayangi. Tingkat suku bunga semakin tinggi dan diduga akan

terus membumbung, memperkuat kekhawatiran akan gagalnya proses

penyembuhan di atas. Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena

adanya kemiskinan ekstrim dan berbagai bentuk ketidak adilan

sosio-ekonomi, yang melahirkan gejolak sosial politik,  besarnya defisit

neraca pembayaran, dan ketidak mampuan negara kita untuk membayar

kembali hutang-hutang Luar Negeri. Belum lagi ketidak stabilan situasi

politik nasional, akibat ketidak jelasan visi dan kebijakan-kebijakan

politik ekonomi pemerintah.

Sungguh, peristiwa ini adalah murni kesalahan manusia. Betapa tidak.

Indonesia, negeri yang kaya raya, hampir semua sumber daya alam dunia

ada di dalamnya, tetapi terpuruk dalam kubangan musibah yang

melumpuhkan. Keadaan ini tidak bisa dilepaskan akibat banyaknya

penyimpangan yang dilakukan bangsa ini terhadap ketentuan dan aturan

Allah swt.; bahkan juga terhadap aturan yang dibuatnya sendiri.

Penyimpangan moral, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi pemandangan

sehari-hari. Sungguh, dekadensi dan krisis akhlak ini telah menyerang

dan menggerogoti seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat. Para pemimpin

negara dan pejabat pemerintahan yang seharusnya memberi teladan yang

baik kepada rakyatnya dalam memberantas penyakit-penyakit moral tadi,

justru terlibat dalam penyebaran virus ganas tersebut. Kita memang

membutuhkan sosok pemimpin ideal. Pemimpin yang mampu menjadi uswah

hasanah dalam kehidupannya sehari-hari, dan membimbing kita keluar dari

krisis yang berkepanjangan ini.

Jama'ah shalat Iedul Adha yang dimuliakan Allah,

Hari ini adalah hari Raya 'Idul Adha, atau Hari Raya Haji. Hari yang

dijadikan Allah swt sebagai momentum untuk mengingatkan kita pada kisah

seorang tokoh besar dan menyejarah: Nabi Ibrahim as. Ia adalah sosok

pemimpin teladan, pemimpin umat manusia dan kemanusiaan. Prosesi ritual

haji yang harus diikuti oleh setiap jama'ah haji, adalah sebuah "napak

tilas" yang akan mengungkap keteladanan pribadi Nabi Ibrahim as. Ka'bah,

thawaf, sa'i, sumur zam-zam, qurban, jumrah; semuanya menjadi monumen

dan saksi sepanjang sejarah umat manusia tentang perjuangan seorang

hamba Allah, Ibrahim as beserta keluarganya, dalam mengarungi samudera

kehidupan yang penuh ujian dan cobaan, menggapai kemuliaan, dan

menegakkan nilai-nilai Tauhid.

Kesabaran, ketegaran, dan keberhasilannya dalam menghadapi ujian

>kehidupan, mengantarkannya menjadi pribadi mulia yang dianugerahi Allah

swt dengan berbagai gelar istimewa. Al-Qur'an mengabadikan gelar-gelar

tersebut, seperti: Ulul-'Azmi (QS. Al-Ahqaf:35), Nabi yang Siddiq (QS.

Maryam:41), Tokoh yang Hanif (QS. An-Nahl:120), Kekasih Allah (QS.

An-Nisa':125), Pemulia Tamu (QS. Adz-Dzariyat:24-28), Teladan Terbaik

(QS. Al-Mumtahanah:4), Si Jenius (QS. Al-Anbiya':63), Pelopor pembangun

Rumah Ibadah (QS. Ali Imran:96), Satu-satunya manusia yang disebut Umat

(QS. An-Nahl:120), Teladan dalam berkorban (QS. Ash-Shaffat:104-107).

Dan yang terakhir adalah penganugerahan gelar bagi Ibrahim as sebagai

Pemimpin Ummat Manusia.

"Dan  (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat

(perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:   

"Sesungguhnya Aku  akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia." (QS.

Al-Baqarah:124)?

Marilah kita telaah, apa yang menjadi rahasia kelebihan Ibrahim as,

hingga beliau diangkat Allah swt sebagai Pemimpin umat manusia? Dan

seluruh orang yang beriman setelahnya, termasuk Rasulullah Muhammad saw,

diperintahkan Allah untuk menjadikannya sebagai uswah dan qudwah

hasanah?

Jama'ah shalat 'Id yang dimuliakan Allah,

Inilah beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari pribadi beliau,

agar kita mampu mengarungi gelombang kehidupan dengan selamat, agar kita

senantiasa terjaga dalam meniti jalan kemuliaan, agar kita lolos dan

lulus menghadapi krisis multi dimensional ini.

Pertama:  Bersih dalam Bertauhid.

Ibrahim as berhasil mengenal Tuhannya setelah melalui proses pencarian

-dengan mengoptimalkan aspek intelektual dan spiritual- yang tak

mengenal lelah. Hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan jawaban yang

mampu meyakinkannya dan membuatnya qana'ah. Kemudian ia mengukuhkan

tekadnya untuk memberikan komitmen dan loyalitasnya hanya kepada Dzat

yang menciptakan dunia (langit dan bumi), yang selama ini menjadi

sesembahan (di-tuhan-kan) kebanyakan manusia.

"Sungguh, akan kuhadapkan seluruh orientasiku hanya kepada Dzat

pencipta langit dan bumi, dengan lurus. Dan aku bukan termasuk golongan

orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am:79).

Sejak itu, ia sampaikan risalah Tauhid ini kepada seluruh kaumnya

dengan bijak dan cerdas. Ia da'wahi kaumnya untuk meninggalkan tradisi

penyembahan berhala, suatu kultur paganistik yang irrasional dan tidak

logis, yang menyebabkan kaumnya terjerembab ke dalam kubangan jahiliyah.

Ia berda'wah dengan menggunakan pendekatan dialogis dan ilmiah untuk

menyadarkan kaumnya dari sikap dan perilaku bodohnya. Bahkan, ketika ia

hancurkan berhala-berhala itu pun dalam rangka 'shock therapy' guna

membangkitkan kesadaran intelektualitas umatnya.

Tetapi, upayanya itu ditentang hebat oleh kaumnya dan juga orangtuanya

sendiri yang kebetulan seorang aktivis penyembah berhala. Bahkan

akhirnya, ia harus berhadapan dengan rezim penguasa  yang tiranik, yaitu

Raja Namrud. Penguasa tersebut menghendaki agar ia menghentikan usahanya

melakukan reformasi total dalam ideologi dan sistem kebangsaan dan

kenegaraan. Tetapi Ibrahim tidak mau berkompromi sedikitpun, walaupun ia

diiming-imingi tawaran yang menggiurkan berupa jabatan dan harta, karena

ia berkeyakinan bahwa agenda reformasi yang tengah diperjuangkannya ini

adalah amanah suci dari Tuhannya. Meskipun akhirnya ia divonis mati oleh

sang penguasa zhalim melalui pengadilan yang direkayasa, dengan tuduhan

telah mengganggu stabilitas politik nasional, merongrong kewibawaan

penguasa, dan berusaha mengubah atau mengganti Undang-undang Dasar

Negara yang sah. Hukumannya berupa: Dibakar hidup-hidup!

"Sungguh,  kalian harus menjadikan Ibrahim dan juga pengikutnya sebagai

uswah hasanah. Mereka berkata kepada kaumnya, "Sungguh, kami berlepas

diri dari kalian dan dari sistem peribadatan kalian yang bukan dari

Allah. Kami menolak (ajakan) kalian. Meskipun, kalian akan memusuhi dan

membenci kami selamanya. Sampai kalian beriman hanya kepada Allah saja!"

(QS. Al-Mumtahanah:4).

"Dan Ibrahim juga berkata kepada orangtua dan kaumnya, "Sungguh, aku

berlepas diri dari sistem peribadatan kalian." (QS. Ash-Shafat:26).


Kedua: Membangun Rumah Tangga Da'wah.

Ibrahim sadar bahwa ia tengah membawa misi yang berat dan membutuhkan

banyak pengorbanan. Oleh karena itu, keluarganya sebagai basis

perjuangannya harus ia kondisikan dan ia bina agar menjadi pendukung dan

penerus misi da'wahnya.

Ketika kebanyakan manusia berlomba membangun rumah mewah untuk

kediamannya, membangun kekuasaan untuk menundukkan lawan-lawan

politiknya, membangun kerajaan ekonomi untuk mengumpulkan harta

sebanyak-banyaknya, membangun prestise untuk prestasi sosial dan

popularitas, demi alasan membahagiakan keluarganya; Ibrahim as lebih

memilih membangun aqidah dan akhlak keluarganya demi keselamatan dan

kebahagiaan sejati mereka di dunia dan di akhirat kelak. Ia

men-tarbiyah, mendidik dan membina isteri dan anak-anaknya dengan

nilai-nilai Islam. Ia berharap  anak keturunannya menjadi orang-orang

shalih yang selalu mendirikan shalat. Ia mendambakan rumah tangganya

menjadi markaz da'wah. Itulah obsesinya, obsesi seorang pemimpin

teladan, yang tercermin dalam lantunan do'anya:


"Wahai Tuhan kami, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang

selalu mendirikan shalat." (QS. Ibrahim:40).

Demikianlah, Allah pun mengabulkan do'anya. Dari pernikahannya dengan

Sarah, lahirlah Ishaq yang kemudian menjadi Nabi. Dari Ishaq lahirlah

Nabi-Nabi dari kalangan Bani Israil, seperti Nabi Ya'kub, Nabi Yusuf,

Nabi Musa, Nabi Yahya, Nabi Zakaria, dan nabi Isa as. Sementara, dari

pernikahannya dengan Hajar, lahirlah Isma'il yang menjadi kemudian Nabi

yang terkenal bijaksana, dan selanjutnya dari keturunan Ismail as

lahirlah Nabi Besar Muhammad saw., penutup para Nabi dan Rasul.

Ibrahim as merasa sangat berbahagia ketika anak cucunya menjadi

rang-orang shalih. Ketika wafat, beliau tidak mewariskan harta maupun

deposito untuk anak-anaknya. Tetapi ia mewariskan kekayaan yang tiada

Ternilai harganya, yaitu: Iman dan taqwa.


Ketiga: Menjaga Keikhlasan dan Ketaatan

Ibrahim as juga memahami bahwa perjalanan da'wah yang tengah

dijalaninya adalah sebuah perjalanan yang panjang dan sulit. Ia

berkelok-kelok, adakalanya menanjak terjal dan adakalanya menurun curam.

Sementara di kanan kirinya semak berduri yang di baliknya ada binatang

buas atau jurang yang menganga. Ia juga sadar dan faham, bahwa tanpa

keikhlasan dan komitmen ketaatan kepada Allah dalam menjalankan tugas

da'wah ini, ia tidak akan pernah mampu meraih tujuan yang sebenarnya.

Dan Allah memang mengujinya dengan berbagai tugas dan masalah berat

yang harus selesaikannya, juga memberikan rambu-rambu larangan yang tak

boleh dilanggarnya. Demikian berat ujian tersebut, yang dalam ukuran

atau perhitungan manusia mungkin dinilai tidak masuk di akal. Bagaimana

tidak, dalam menguji kadar keimanan dan ketaatan serta keikhlasannya

dalam mengabdi kepada Allah swt, Ibrahim diperintahkan  untuk pergi

meninggalkan isteri dan anaknya yang baru saja dilahirkan, di daerah

gurun pasir yang sangat panas dan tandus seorang diri, untuk   

berda'wah ke negeri yang jauh, dalam waktu yang sangat lama. Sehingga

isterinya, Hajar, pun bertanya dengan nada sedih, "Kemana kanda akan

pergi? Mengapa kanda meninggalkan kami di sini, di daerah gurun yang

tiada air dan pepohonan? Ibrahim hanya mampu menatap isterinya, lidahnya

kelu. Melihat raut wajah suaminya, sang isteri langsung faham, kemudian

bertanya lagi, "Apakah ini semua perintah Allah?" Ibrahim menjawab,

"Benar". Akhirnya, dengan mantap isteri yang shalihah tadi berkata

sembari memberi dukungan moril pada suaminya, "Kalau demikian,

berangkatlah kanda. Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan aku!"

Allahu Akbar!

Inilah prototype rumah tangga Islami yang ideal. Sang suami seorang

yang shalih yang selalu taat dan ikhlas dalam menjalankan perintah

Allah, dan sang isteri serang wanita shalihah yang selalu memberikan

dukungan moril terhadap aktivitas da'wah suaminya.

Bandingkanlah dengan rumah tangga modern sekarang ini. Kebanyakan suami

menghabiskan waktu, tenaga dan fikirannya untuk mengejar karir duniawi

semata, hingga melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah. Sementara

sang isteri sibuk merongrong suaminya agar terus menumpuk kekayaan untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya yang serba glamour.


Keempat: Memiliki Semangat Berkorban yang Tinggi.

Beberapa tahun kemudian, Ibrahim kembali dari perjalanan da'wahnya. Dan

ternyata ujian lain telah menunggunya. Ia diperintah Allah untuk

menyembelih anaknya! Inilah puncak ujian Allah swt terhadapnya, setelah

rentetan ujian bertubi-tubi harus ia hadapi. Hampir saja ia tidak

mempercayai jenis perintah tersebut. Baginya, Isma'il, anaknya,  adalah

harta yang tak ternilai harganya. Apalagi puteranya itu lahir setelah

puluhan tahun ia mengarungi kehidupan berumah tangga tidak juga

dikaruniai anak. Setelah memohon kepada Allah dalam do'a-do'anya yang

tak mengenal putus asa, akhirnya permintaannya dikabulkan. Itu pun

ketika ia telah berusia 90 tahun. Betapa suka citanya ia, betapa

cintanya ia kepada anak semata wayang-nya tersebut. Dan kini, tiba-tiba

ia diperintah untuk menyembelihnya!.

"Sungguh ini benar-benar ujian yang berat!" (QS. Ash-Shafat:106).

Namun kesadaran imaninya segera bangkit. Ini  adalah ujian mahabbah

(kecintaan). Mana yang lebih dicintai: Allah-kah, atau anaknya? Dan

sejarah membuktikan, Ibrahim as lebih mencintai Allah daripada anaknya.

Begitulah sebagian dari ujian-ujian berat yang diberikan Allah swt

kepada Ibrahim as. Ia menyelesaikan seluruh tugas dan ujian tersebut

dengan sangat baik, dengan didasari sikap ketunduk-patuhan, ketaatan,

dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Keberhasilannya menjalani

ujian-ujian berat tadi ternyata sebagai sebuah proses penyaringan yang

dilakukan Allah, sebelum mengangkatnya menjadi pemimpin para nabi, dan

pemimpin umat manusia.

"Dan ketika Tuhannya menguji Ibrahim dengan berbagai perintah, Ia

menyelesaikannya dengan sempurna. Allah pun berfirman, "Sesungguhnya,

Aku ingin menjadikanmu sebagai pemimpin manusia." Ibrahim berkata,

"Mohon keturunanku pun juga." Allah menjawab, "(Baik, tetapi) janji-Ku

ini tidak berlaku bagi (keturunanmu) yang zhalim." (QS. Al-Baqarah:124)

"Dan sungguh Ibrahim telah menjadi orang terpilih di dunia ini, dan di

akhirat pun ia akan masuk golongan orang-orang shalih.  Manakala

Tuhannya memerintahkan untuk, "Tunduk patuh!", ia pun menjawab, "Aku

tunduk dan patuh kepada Rabb semesta alam." (QS. Al-Baqarah:131).

Berkorban adalah tradisi universal yang dikenal oleh seluruh umat

manusia dari bangsa mana pun. Telah menjadi rumusan tidak tertulis yang

disepakati manusia, bahwa semakin besar pengorbanan seseorang atau suatu

kaum, semakin besar pula peluang untuk meraih keberhasilan dan

kesuksesan. Bentuk pengorbanan itu beragam, dari mulai tenaga, fikiran,

waktu, materi, perasaan, hingga jiwa.

Apa yang kita saksikan di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim

ini? Egoisme dan kebakhilan telah melanda hampir sebagian besar manusia.

Fenomena ketamakan akan harta dan kekuasaan muncul secara vulgar. Untuk

memperoleh itu semua, mereka menghalalkan segala cara. Korupsi, kolusi

dan represi menjadi tradisi. Krisis moral seperti inilah sebenarnya

penyebab utama munculnya krisis ekonomi yang melahirkan krisis

multidimensional.

Banyak memang orang yang berkorban, baik di kalangan rakyat maupun

pejabat. Namun sayang, sebagian dari mereka berkorban hanya sekedar demi

membangun citra sebagai seorang dermawan. Berkorban demi untuk menutupi

kekayaan yang diperolehnya secara tidak wajar. Apakah artinya seekor

atau dua ekor sapi, jika dibandingkan dengan jutaan atau bahkan miliaran

dolar US dalam bentuk asset perusahaan atau yang tersimpan dalam

rekening Bank di dalam maupun Luar negeri, yang diperolehnya melalui

jalan yang tidak halal?

Ingatlah, semakin kita egois dan bakhil, semakin kita pelit untuk

berinfaq di jalan Allah, semakin kita enggan berkorban, maka Allah tidak

akan mengentaskan kita dari musibah besar ini. Semakin kita cepat

menyadari kesalahan dan kekhilafan, dan segera mengembalikan harta yang

bukan hak kita, semakin cepat pula kita keluar dari kemelut dan krisis

ini.


Kelima: Bertawakkal, Bertaubat, dan Memohon Pertolongan Allah.

Umumnya para pemimpin di mana pun merasa mampu menyelesaikan

problematika bangsanya dengan mengandalkan kemampuan manajerialnya dan

kepakaran para staffnya. Mereka bersikap angkuh dan merasa besar untuk

mengakui kelemahan dan kekurangannya. Mereka tidak mau mengakui

kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dibuatnya. Mereka enggan untuk

bertaubat, beristighfar, dan meminta ampun kepada Allah atas segala dosa

dan maksiat yang telah dilakukannya. Bahkan merasa malu untuk meminta

pertolongan Allah, karena hal ini dinilai tidak logis dan tidak ilmiah.

Mereka merasa lebih bergengsi meminta pertolongan kepada bangsa-bangsa

lain, walaupun bangsa tersebut ternyata malah menjerumuskannya. Mereka

lebih merasa terhormat meminta bantuan kepada Bank Bunia atau IMF -dan

untuk itu rela untuk didikte bangsa lain-, daripada meminta bantuan

kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Tetapi Ibrahim as, seorang pemimpin besar yang selalu sukses

menyelesaikan permasalahannya, tidak pernah terbersit dalam hatinya

perasaan hebat, tinggi, arogan, dalam menilai dirinya. Ia justru merasa

kecil dan lemah di hadapan Allah Yang Maha Besar. Oleh karenanya,

setelah ia berusaha sekuat tenaga dan kemampuannya, ia lalu bertawakkal

kepada Allah, menyerahkan semua urusannya kepada Yang Maha Hebat. Ia pun

senantiasa bertaubat, memohon ampun atas segala kekhilafan dan kesalahan

dalam sikap dan perbuatan, dan ia tidak pernah meminta bantuan kepada

siapa pun kecuali kepada Allah Yang Maha Mulia dan Perkasa.

Simaklah do'a Ibrahim as ketika tengah menghadapi permasalahan besar:

???????? ???????? ???????????? ?????????? ????????? ??????????

??????????(4) ???????? ??? ??????????? ???????? ?????????? ????????

????????? ????? ???????? ??????? ?????? ?????????? ??????????(5)

"Ya Allah, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal, hanya kepada

Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya

Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi

orang-orang kafir. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Sesungguhnya

Engkau, hanya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.

Al-Mumtahanah:4-5).

Demikianlah Ibrahim as, adalah sosok pemimpin sejati. Keberhasilannya

mengemban amanah Allah sampai diabadikan di dalam Al-Qur'an, dan bahkan

peristiwa-peristiwa penting yang dialami diri dan keluarganya, dijadikan

Allah sebagai syari'at haji, agar seluruh umat manusia sesudahnya selalu

mengenang kisah kesetiaan, kepatuhan dan ketaatan seorang hamba Allah

kepada Rabb-nya,  hingga Hari Akhir.

Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya

dari kehidupan nabi Ibrahim as dan keluarganya.

Hadirin, jama'ah shalat 'Idul Adhha yang dirahmati Allah,

Pada penutup khutbah di hari yang mulia ini kita perlu menundukkan

kepala dengan kepasrahan dan kerendahan hati dan mengingat-ingat kembali

keadaan diri kita, apakah yang telah kita perbuat bagi diri kita,

keluarga kita umat kita dan agama kita. Berapa besar-kah kecintaan kita

kepada pemimpin dan pembimbing kita Muhammad saw, betapa besarkah

penghargaan kita kepada syari'at-Nya, kepada Ramadhan yang setiap tahun

menemui kita? Jika kita cinta Allah dan Rasulullah, menghargai syari'at

dan perintah Nya, maka kita perlu merenung apa bukti semua itu. Berapa

banyak harta yang kita keluarkan, berapa banyak tenaga yang kita

pertaruhkan, berapa banyak pikiran yang kita curahkan, berapa banyak

keringat yang kita teteskan dan berapa banyak darah yang kita tumpahkan

bagi Islam?

Untuk itu marilah kita berdo'a memohon ampunan Allah atas segala

kelemahan dan kealpaan kita.


Ya Allah, kami menyadari sesungguhnya telah datang kepada kami

Rasul-rasul-Mu yang menyeru kami kepada keislaman, keimanan, dan

keistiqamahan. Maka mudahkanlah  bagi kami curahan hidayah-Mu sehingga

kami mampu menjawab seruan itu dengan kata, perbuatan dan perjuangan.

Ya Allah, teguhkanlah dan kuatkanlah hati kami sehingga kami tak mudah

tergoda oleh bisikan was-was syaitan yang menyebabkan goyahnya keimanan

kami. Ya Allah, kami menyadari bahwa kelemahan telah membuat kami

berlaku zhalim kepada diri sendiri dan bahkan mungkin kepada orang lain.

Karenanya ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah

kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami, ya Allah, berserta

orang-orang yang berbakti kepada-Mu.

Ya Allah, kami menyadari betapa beratnya perjuangan menegakkan

agama-Mu, menegakkan kalimat-Mu, mengibarkan panji-panji-Mu. Betapa

banyak tantangan yang menghadang. Karenanya betapa banyak pula pekerjaan

yang seharusnya kami lakukan. Tetapi ya Allah, apa yang kami perbuat

hingga hari ini ? Karenanya ya Allah, wahai Tuhan kami, janganlah Engkau

hukum kami jika kami lupa atau tersalah.

Ya Allah, wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban

yang berat, sebagaimana yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum

kami. Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa

yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami,

rahmatilah kami. Hanya Engkau, ya Allah, hanya Engkau, penolong kami.

Maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.

Ya Allah, tunjukkanlah pada kami yang benar itu benar, dan berikanlah

kepada kami kesanggupan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami

yang salah itu salah, dan berikanlah kepada kami kekuatan dan kemampuan

untuk menghindari dan menyingkirkannya.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai anak-anak yang shalih yang berbakti

kepada orang tua. Orang tua kami telah bersusah payah membesarkan kami

sejak kami dalam kandungan hingga kami dewasa. Mereka melakukan itu

karena memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Karena itu ya Allah, ampunilah

segala kesalahan dan dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka ya

Allah, sebagaimana mereka telah menyayangi kami ketika kami dalam asuhan

dan bimbingannya.

Ya Allah, tak ada sesuatu yang bisa kami balaskan bagi jerih payah

kedua orang tua kami selain do'a ini. Ya Allah, kami juga bersyukur

telah Engkau beri kami amanah pasangan hidup dan anak-anak. Namun kami

mengakui belum banyak yang bisa kami tunaikan tugas-tugas kami dalam

memikul amanah itu. Oleh karena itu, tolonglah kami ya Allah, bantulah

kami dari kelemahan-kelemahan itu, janganlah pasangan hidup dan

anak-anak kami menjadi fitnah bagi kami, baik di dunia ini dan di

akhirat kelak. Jadikanlah mereka sebagai perhiasan dan penyejuk hati

yang dapat mengokohkan keimanan kami.

Ya Allah, ampunilah dosa saudara-saudara kami seiman dan seperjuangan,

dan dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat. Janganlah Engkau biarkan

tumbuh di hati kami rasa hasad, dengki, dendam, permusuhan dan

perselisihan terhadap saudara-saudara kami. Ya Allah, jadikanlah

hati-hati kami dan saudara kami berkumpul atas dasar mahabbah dan

kecintaan kepada-Mu, bertemu atas dasar ketaatan kepada-Mu, bersatu di

jalan da'wah dan perjuangan menegakkan agama-Mu, berpadu dalam

menegakkan syari'at-Mu.

Ya Allah, kokohkanlah ikatan persaudaraan Islam di antara kami,

kekalkanlah cintanya, tunjukkanlah jalan-jalannya, penuhilah dengan

sinar-Mu yang tak pernah padam, dengan curahan keimanan kepada-Mu,

hiasilah dengan ketawakkalan kepada-Mu, hidupkanlah hati kami dengan

ma'rifah kepada-Mu dan matikanlah kami sebagai syahid di jalan-Mu.

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah waqinaa

'adzaaban-naar. Subhaana Rabbika Rabbil 'Izzati amma yasifuun wasalaamun

'alal-Mursaliin wal hamdu lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
"Ya Rabbi, tunjukilah aku buat mensyukuri ni'mat Engkau, yang telah
Engkau berikan kepada ku dan kepada kedua orang tua ku dan supaya aku
kerjakan amalan shalih yang Engkau sukai dan perbaikilah bagi ku
keturunan ku, sesungguhnya aku bertobat kepada Mu dan  aku termasuk
orang-orang Islam" (QS.Al Ahqaf:15)

           




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar