Senin, 23 Januari 2012

MENINGKATKAN IMAN


MENINGKATKAN IMAN
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal   dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak    mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya yang telah ia kerjakan
tsb)". (Hadist Riwayat Tabrani)

Terlampir di bawah ini adalah kajian yang sangat bagus yang saya
dapatkan, mengenai "100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman", yang
sangat bagus untuk diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga
bermanfaat.

>      100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
>      1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
>      2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
>      3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
>      4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
>      5. Jangan membiarkan  hati larut dalam kesedihan;
>      6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
>      7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
>      8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
>      9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
>      10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
>      11. Jangan tamak kepada harta;
>      12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
>      13. Jangan hancur karena kezaliman;
>      14. Jangan goyah karena fitnah;
>      15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan           diri;
>      16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
>      17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
>      18. jangan usir orang yang meminta-minta;
>      19. Jangan sakiti anak yatim;
>      20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
>      21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
>      22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
>      23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
>      24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di        masjid;
>      25. Biasakan shalat malam;
>      26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
>      27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
>      28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
>      29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
>      30. Jangan marah berlebih-lebihan;
>      31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
>      32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
>      33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
>      34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf                apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
>      35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
>      36. Jangan percaya ramalan manusia;
>      37. Jangan terlampau takut miskin;
>      38. Hormatilah setiap orang;
>      39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
>      40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
>      41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
>      42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
>      43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
>      44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
>      45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
>      46. Perbanyak silaturahmi;
>      47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
>      48. Bicaralah secukupnya;
>      49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
>      50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
>      51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
>      52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
>      53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
>      54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
>      55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
>      56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
>      57. Cintai keluarga Nabi saw;
>      58. Jangan terlalu banyak hutang;
>      59. Jangan terlampau mudah berjanji;
>      60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan              dunia adalah kehidupan sementara;
>      61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat
>          seperti mengobrol yang tidak berguna;
>      62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
>      63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
>      64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
>      65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
>      66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan              dengan kejahatan lagi;
>      67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
>      68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
>      69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai            pilihan;
>      70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang                   mendapatkan kesulitan;
>      71. Jangan melukai hati orang lain;
>      72. Jangan membiasakan berkata dusta;
>      73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan            kerugian;
>      74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
>      75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan            kesungguhan;
>      76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
>      77. Jangan membuka aib orang lain;
>      78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula             orang yang lebih berprestasi dari kita;
>      79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan            bijaksana;
>      80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
>      81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
>      82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa             dan negara;
>      83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
>      84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
>      85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
>      86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
>      87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
>      88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan            tidak  menyenangkan;
>      89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan            norma-norma agama dan kondisi diri kita;
>      90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental              kita menjadi terganggu;
>      91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
>      92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan
>          pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
>      93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain            terganggu, dan jangan  berkata sesuatu yang dapat            menyebabkan orang lain terhina;
>      94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut               teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
>      95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
>      96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban            dan keramahan dan tidak berlebihan;
>      97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar
>          kemampuan diri;
>      98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan.
>          Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
>      99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan
>          setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
>      100.Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya                dengan memiskinkan orang;
>


Anda ingin beramal shaleh?  Tolong kirimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal.

MENGAPA

MENGAPA

HATI KITA MATI
DAN BAGAIMANA MENGHIDUPKANNYA

Sudah menjadi fitrah semulajadi atau sudah menjadi sifat atau tabiat bagi hati, apabila seseorang itu berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan, hati akan berasa takut; ataupun bila ia berhadapan dengan sesuatu yang kotor atau najis, hati akan terasa jijik. Semua ini berlaku secara spontan. Apabila ia berha- dapan dengan sesuatu yang indah pula, hati akan berasa tenang dan terhibur; bila berhadapan dengan makanan yang sedap akan timbul ransangan pada nafsunya untuk makan makanan itu. Begitu juga apabila ia berhadapan dengan sesuatu yang biasa, hatinya pun berasa biasa sahaja. Juga menjadi sifat hati, apabila seseorang itu berhadapan dengan seseorang yang patut dihormati, dengan sendirinya hatinya mahu hormat dan ia pun merendah diri.

Begitu juga apabila berhadapan dengan orang yang lebih pandai, dalam hati tiba-tiba timbul inferiority complex atau rendah diri. Begitu juga apabila berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa, hati rasa gerun dan hebat. Inilah di antara sifat dan fitrah yang ALLAH telah jadikan pada diri manusia. Inilah dikatakan sifat-sifat hati atau sifat-sifat roh.

Akan tetapi kita berasa pelik, kenapakah ketika kita berhadapan dengan sifat Ilmu Tuhan dan sifat Basar Tuhan, hati kita tidak pula berasa malu. Padahal kita tahu ALLAH itu bersifat mendengar, melihat dan mengetahui; pendengaran, penglihatan serta pengetahuan ALLAH itu tidak terlindung oleh apa jua yang melindungi hinggakan apa yang tercetus di dalam lubuk hati kita dan gerak hati pun ALLAH tetap mengetahuinya. Hati juga tidak berasa gerun dan hebat bila berhadapan dengan kuasa ALLAH sedangkan ALLAH itu berkuasa ke atas setiap sesuatu. Kuasa ALLAH itu maha hebat; apabila ALLAH katakan, "jadilah" terhadap sesuatu pasti ia terjadi. Tetapi apabila hati kita berhadapan dengan kuasa ALLAH, kita tidak pun berasa hebat atau gerun terhadap ALLAH. Mengapakah hati kita tidak berasa takut apabila berhadapan dengan sifat Jabbar, Qahhar dan Syadidul Iqab iaitu sifat Tuhan yang Perkasa, Keras dan Sangat Menghukum. Mengapa pula hati ini tidak berasa kasih dan sayang kepada Tuhan apabila kita mengetahui yang ALLAH itu bersifat Ar Rahman, Ar Rahim, Al Ghafur dan menurut sebuah Hadis Qudsi, ALLAH me- ngatakan: Aku mengasihi hambaKu itu lebih daripada kasihnya seorang ibu kepada anaknya."

Kita semua mengetahui perkara ini tetapi hati kita tidak berasa kasih dan sayang kepada Tuhan. Begitu juga apabila kita berhadapan dengan sifat Ar Razak ALLAH, hati kita tidak berasa syukur dan terhutang budi kepada ALLAH. Padahal ALLAH setiap detik dan saat memberi rezeki kepada kita; rezeki makan dan minum, rezeki pakaian, rezeki pandangan, rezeki berfikir dan lain-lain yang semuanya merupakan nikmat dari ALLAH SWT. Mengapa hati kita juga tidak terasa mahu berkhidmat kepada ALLAH sedangkan ALLAH telah memberitahu dalam Quran: "Barangsiapa yang melaksanakan amal soleh akan dibalas amal solehnya itu." Hati kita tidak pula terdorong untuk berkhidmat kepada ALLAH dengan mengerjakan amal soleh. Mengapakah boleh terjadi demikian? Hati ini tidak teransang lagi dengan apa jua rasa terhadap ALLAH SWT sepertimana nafsu itu teransang apabila berhadapan dengan bermacam-macam bentuk keduniaan yang ada di atas muka bumi Tuhan. Sepatutnya kalau sifat semulajadi roh itu apabila berhadapan dengan sesuatu yang ada di muka bumi Tuhan ini sedia teransang, tentu sekali ia berasa lebih sensitif lagi bila berhadapan dengan ALLAH yang mempunyai sifat yang lebih hebat. Tetapi kita tidak berasa sensitif lagi berhadapan dengan Ilmu ALLAH, Kudrat ALLAH, Sama’ ALLAH, Basar ALLAH dan sifat-sifat ALLAH yang lain.

Mengapa boleh terjadi demikian, padahal kita juga telah mempelajari kitab tauhid dan kitab feqah. Sebenarnya ini semua berlaku kerana hati atau roh kita sudah mati. Apabila hati mati, hati itu tidak lagi kenal ALLAH, ia hanya se- kadar tahu akan ALLAH. Hati itu hanya sekadar ada al-ilmubillah tetapi tidak mempunyai al-makrifatu-billah. Padahal hati atau roh itulah yang mula-mula mengenal ALLAH sebelum ia dimasukkan ke dalam tubuh kasar ini. Ini telah ALLAH jelaskan dalam Al Quran: Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Semua roh menjawab, Ya, kami menyaksikan (bahawasanya Kamu adalah Tuhan karni)." (Al A’raf: 172).

Tetapi setelah hati atau roh ini dimasukkan ke dalam badan kasar sebagai sarang dan rumahnya, segala pengaruh material yang ada di dalam badan itu termasuk pengaruh benda, pengaruh nasi, pengaruh makan dan minum, pengaruh berkelamin dan pengaruh keduniaan lain telah mematikan hati atau roh kita, hingga membuat ia tidak sensitif lagi berhadapan de- ngan kebesaran ALLAH. Hati di dalam badan kita ini diibaratkan seperti raja dan anggota lahir ini sebagai rakyatnya; mata, tangan, kaki, telinga, mulut dan semuanya rakyat kepada hati. Apabila hati itu sudah mati bererti raja di dalam diri kita sudah tidak berperanan lagi. Maka penjahatlah yang mengambil alih peranan sebagai raja di dalam diri. Penjahat ini yang mengambil alih pemerintahan kerajaan diri untuk mengganti roh yang telah mati itu. ’Orang jahat’ pun berkuasa dalam diri kita iaitu hawa nafsu. ALLAH telah menceritakan kepada kita tentang hawa nafsu ini: "Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat mengajak orang berbuat jahat." (Yusuf: 53)

Jadi, sifat semulajadi nafsu itu, telah ALLAH janjikan jahat. Apabila roh sudah mati dan tidak berperanan lagi sedangkan dia raja di dalam diri manusia, nafsu yang jahat inilah menjadi raja. Setidak-tidaknya raja yang sebenarnya di dalam diri itu (roh) mengambil nasihat dari nafsu, tidak dari akal lagi. Sepatutnya roh sebagai raja, mesti menerima na- sihat dari akal. Akal adalah sebagai penasihat dalam kerajaan diri. Jadi kalaulah nafsu telah mengambil alih jawatan raja di dalam diri, iaitu jawatan roh itu, nafsu yang jahat ini akan mengajak mata melihat benda yang jahat, memerintahkan tangan memegang benda yang jahat, memerintahkan mulut bercakap jahat, memerintahkan kaki menghala ke tempat yang tidak baik, bahkan memerintahkan segala anggota lahir melakukan kejahatan. Apabila berlaku demikian, lahirlah kerosakan di atas bumi Tuhan, lahirlah kerosakan dalam kehidupan manusia, lahirlah kerosakan dalam masyarakat seperti yang ALLAH gambarkan dalam Al Qurari: "Lahirlah kerosakan di daratan dan lautan kerana usaha tangan manusia itu sendiri (yang didorong oleh hawa nafsu) agar manusia itu merasai azab (di dunia lagi)." (Ar Rum: 41)

Jadi akibat tindakan manusia yang melakukan maksiat kerana didorong oleh hawa nafsunya yang telah mengambil alih tempat roh di dalam dirinya sebagai raja, lahirlah kerosakan dalam kehidupan manusia. Bila ini berlaku, ia menyusahkan manusia itu sendiri, menghuru-harakan manusia dan menjadikan manusia bergaduh serta berperang sehingga akhirnya tidak ada keamanan lagi. Inilah yang dikatakan Neraka dunia iaitu Neraka sementara waktu sebelum Neraka di Akhirat – Neraka yang kekal abadi yang lebih dahsyat lagi. Wal ’iyazubillah.

Jelaslah, apabila hati ini tidak sensitif lagi dengan Sama' Tuhan, Ilmu Tuhan, Qudrat Tuhan dan lain-lain sifat Tuhan, itu menunjukkan hati kita sudah mati. Perlulah kita hidupkan semula. Perlu kita usahakan sungguh-sungguh supaya hati kita itu hidup dan berperanan semula di dalam diri kita. Biar dia menjadi raja di dalam diri kita, jangan pula nafsu mengambil alih kedudukannya. Sebabnya, apabila nafsu mengambil alih kedudukan hati maka nafsu akan menghalakan kita derhaka kepada ALLAH SWT.

Untuk memulihkan hati agar hidup semula dan menjadi raja di dalam diri serta menerima nasihat dari akal, dan untuk dapat menghalang hawa nafsu (’orang jahat’ di dalam diri kita) daripada menghasut anggota-anggota lahir ini untuk berbuat jahat lagi, maka ada dua peranan yang mesti dilakukan oleh manusia. Pertama, manusia hendaklah berusaha membuang karat-karat di dalam hati. Dengan perkataan lain, kita hendaklah melakukan mu- jahadatunnafs (melawan hawa nafsu) bersungguh-sungguh supaya kita dapat memusnahkan sifat-sifat mazmumah atau sifat-sifat batin yang keji yang ada di dalam hati seperti riyak, ujub, hasad dengki, pemarah, tamak, bakhil, penakut, gila puji, gila pangkat dan sebagainya.

Untuk membuang sifat mazmumah ini bukan mudah; terpaksalah kita melawan hawa nafsu sungguh-sungguh. Kadang- kadang ia memakan masa sepuluh tahun baru kita da- pat tundukkan nafsu kita. Kedua, setelah sifat-sifat mazmumah dapat kita hilangkan, kita masukkan pula ke dalam hati kita itu sifat-sifat yang terpuji, iaitu sifat-sifat mahmudah seperti ikhlas, redha, qanaah, pemaaf, sabar, pemurah, berani dan syukur. Dengan kata yang lain, usaha kedua ini ialah menggilap setelah usaha pertama membuang karat; untuk memberi cahaya pada hati. Ini merupakan peranan bagi orang yang hatinya sudah dimasuki oleh sifat- sifat mazmumah atau yang hatinya telah berkarat.

Ada dua peranan mereka – membuang mazmumah dan memasukkan mahmudah. Tetapi bagi orang yang hatinya belum berdosa atau berdosa hanya sedikit sangat dan sifat-sifat mazmumah belum bertapak di dalam hatinya, hanya ada satu tugasnya – menggilap hati. Hatinya yang tidak berkarat itu hendaklah diusahakan supaya bercahaya. Bagi orang yang sema- cam kita, yang sudah belasan tahun malah puluhan tahun melakukan perkara- perkara dosa, terpaksalah menjalankan dua peranan – membuang karat hati dan selepas itu menggilap hati. Ertinya, kerja kita agak berat sedikit sebab ada dua peranan yang perlu dibuat berbanding dengan orang yang hatinya sudah bersih yang peranannya hanya meggilap supaya hatinya bercahaya. Jadi inilah peranan kita, mengikis karat hati bersungguh-sungguh melalui mujahadatunnafs dan melalui mujahadatunnafs itu juga kita menggilap hati. Apabila kita dapat berbuat demikian, barulah jawarih (anggota lahir) kita dapat kita tundukkan kepada kehendak-kehendak ALLAH dan dapat kita jauhkan ia daripada melakukan kederhakaan kepada ALLAH SWT.

Tetapi kalau kita tidak sanggup melawan hawa nafsu untuk membuang sifat-sifat mazmumah, begitu juga tidak dapat memasukkan sifat-sifat mahmudah ke dalam hati kita, ertinya kita setiap masa, setiap hari, derhaka kepada ALLAH Taala, kita bimbang kelak apabila kita mati maka mati kita dalam keadaan tetap derhaka kepada-Nya dan tempatnya Neraka. Wal ’iyazubillah. Tanggungjawab kita untuk membaiki diri kita, yang akan memberi kesan berupa kebaikan kepada perjuangan kita, adalah berat sekali. Kita terpaksa sentiasa bermujahadatunnafs. Mujahadatunnafs atau memerangi hawa nafsu bukanlah seperti me- merangi musuh-musuh yang lahir. Musuh-musuh lahir adanya sekali-sekala atau bermusim. Tetapi mujahadatunnafs ini tidak bermusim; perlu dilakukan setiap saat, setiap waktu, setiap ketika. Kejayaan kita melawan dan menundukkan hawa nafsu itu merupakan kejayaan kita mendapat iman.

Orang yang mendapat iman ertinya berjaya dalam hidupnya. Orang yang berjaya dalam hidupnya, ertinya berjaya nanti di Akhirat, dan orang yang berjaya di Akhirat tiada lain tempatnya melainkan di Syurga. Moga-moga ALLAH sentiasa memimpin kita hingga musuh yang ada dalam diri kita, iaitu hawa nafsu, dapat kita lawan selalu supaya ia tidak berperanan lagi dan supaya hati kitalah yang berperanan (dalam diri kita). Sememangnya untuk menjadi orang Mukmin yang sejati itu agak susah. Kenapa? Kerana Syurga ALLAH itu manis. Kadang-kadang jawarih kita dapat ditundukkan kepada kehendak- kehendak ALLAH dan kita rasakan usaha kita itu sebagai khidmat ibadah atau amal soleh kita kepada ALLAH. Tetapi kita perlu ingat, dan memang selalu kita diperingatkan, melaksanakan amal soleh itu adalah seperti kita berkebun atau berladang. Kadang-kadang bercucuk tanam itu lebih mudah daripada menjaga ladang. Usaha kita mena- nam padi, menanam serai atau menanam keledek kadang-kadang lebih senang daripada menjaga tanam-tanaman kita itu agar tidak dimusnahkan oleh musuh.

Kerja menjaga itu kadang-kadang lebih berat dan susah daripada kerja menanam. Umpamanya apabila kita sudah sembahyang; bukan mudah untuk menjaga sembahyang yang kita buat. Kita sudah berpuasa; bukan senang untuk menjaga puasa yang kita lakukan. Kita sudah berjuang berjihad; bukan senang untuk menjaga supaya jangan sampai terbatal pahalanya. Kita sudah baca Al Quran, berzikir, bersedekah, berzakat, naik haji, belajar atau mengajar fardhu ain, berdakwah dan sebagainya; bukan senang hendak kita jaga segala amalan itu agar tidak musnah pula pahalanya atau ganjarannya di sisi ALLAH. Kalau kita tidak jaga segala amalan itu, kita akan jadi orang yang muflis. Nampak macam kita beramal tapi hakikatnya kita tidak beramal. Kerana kita tidak menjaga tanam-tanaman kita itu.

Perkara ini amat patut kita bimbangkan selalu sebab ini merupakan soal amalan kita di Akhirat, tempat hidup yang kekal abadi. Biarlah segala amal ibadah dan amal soleh yang kita sudah buat, selamat dan terus mendapat pahala di sisi ALLAH Taala; jangan pula sampai ia rosak semula. Walaupun susah hendak melepaskan diri daripada mengumpat, ujub, riyak, tetapi kalau ALLAH pimpin, mudah sahaja bagi seseorang itu untuk berbuat demikian. Tapi kalau ALLAH tidak pimpin diri kita, bagaimana kita usahakan sekalipun, namun kita tidak boleh menghindarkan diri daripada sifat-sifat yang hendak merosakkan amal kita itu. Jadi, sebagai orang yang beriman kepada ALLAH, janganlah berputus asa. Berdoalah selalu agar Allah sentiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar segala sifat yang boleh menghapuskan amal kebajikan itu dapat kita hindarkan. Di samping berdoa, kita perlu berikhtiar bersungguh-sungguh semoga dengan doa dan usaha ini, ALLAH akan selamatkan kita.

 

MEMBINA MUKMIN SEJATI


MEMBINA MUKMIN SEJATI


(1.) Tidak salah mencari kekayaan dan kesenangan yang halal, banyak pun tidak mengapa tetapi hendaklah takut dengan Tuhan kerana ia selalu sahaja menjadikan kita sombong dan melalaikan kita.

(2.) Janganlah kita ghairah sangat hendak merebut jawatan pemimpin kerana ia adalah amanah dan tanggungjawab yang besar. Kalau kita diberikan juga jawatan itu tanpa kita minta, sedangkan kita mampu, tidak salah pula kita terima tetapi kenalah kita takut dengan Tuhan.

(3.) Fitrah yang murni ia tidak membohongi kita. Ia selalu sahaja boleh menerima kebenaran tetapi yang menghalangnya adalah nafsu dan syaitan.

(4.) Hendaklah kita membuang sungguh-sungguh sifat tamak kerana dengan sifat itulah kita cinta dengan dunia. Apabila kita cinta dengan dunia, kita tidak rasa cukup dengan apa yang ada, sifat tamak dan sifat bakhil datang, akhirnya ia menjadi rebutan. Di sinilah rahsia hilangnya ukhuwah dan sebab timbulnya perpecahan. Hendaklah kita buang sungguh-sungguh.

(5.) Orang yang tamak tidak akan terasa lagi besarnya nikmat Tuhan. Yang ada, dia seolah-olah tidak nampak lagi apa yang dia ada. Benda yang tiada itulah yang menjadi fikiran dan ingatannya. Sebab itu orang yang tamak selalu saja susahkan apa yang tiada.

(6.) Orang mukmin yang sejati itu walaupun dia tidak menolak nikmat dunia, tetapi nikmat itu dia tidak jadikan rebutan. Dia boleh bertolak ansur dengan orang lain.

(7.) Salah satu daripada yang boleh membawa pecah belahnya orang Islam kerana cintakan dunia, maka berebutlah mereka untuk mendapatkannya dengan itu terjadilah perbalahan.

(8.) Di akhir zaman ini, orang selalu memperjuangkan haknya. Kalau tidak dapat boleh jadi masaalah dan perbalahan. Jarang sekali di akhir zaman ini orang yang berjuang mengorbankan haknya demi keredhoan Allah dan khidmat untuk masyarakat.

(9.) Anggaplah nikmat dunia yang Allah beri itu kita tidak layak menerimanya tetapi Allah Taala beri untuk menguji kita apakah kita boleh bersyukur padaNya.

(10.) Sepatutnya orang mukmin itu makin bertambah nikmat, makin bertambah risau kerana nikmat yang sedia ada belum boleh bersyukur , kemudian ditambah lagi nikmat. Ini ditakutijuga tidak akan bersyukur.

(11.) Bila rasa bertuhan itu tidak ada, secara automatically , rasa kehambaan tidak ada. Diwaktu itu kalau kita beribadah pun bukan boleh menghilangkan mazmumah tetapi dia menyuburkan mazmumah. Akhirnya ibadahnya itulah yang menghijab diri dengan Allah Taala.

(12.) Kita beribadah dengan tujuan menyembah Allah yang memang patut disembah. Jangan pula kita beribadah itu untuk menyembah nafsu kita dengan cara membina mazmumah.

(13.) Orang mukmin sejati itu kalaulah menasihat itu bukan satu kewajipan, rasanya hendak meninggalkan sahaja kerana sibuk menasihati diri sendiri.

(14.) Kalau seseorang itu ghairah sangat menasihati orang lain dengan melupakan diri sendiri menunjukkan perjuangannya itu ada kepentingan diri yang tersembunyi.

(15.) Orang mukmin yang sejati itu bukan sahaja sangat menjaga mulut, mata, telinga dan lain-lain anggota lahir, tetapi gerakan hati dan fikiran pun sangat-sangat dijaga kerana ia juga terlibat dengan dosa dan pahala.

(16.) Kalau di dalam jemaah sendiri tidak dapat ditegakkan Islam secara syumul sesuai dengan kuasa yang ada, apa jaminan kita boleh tegakkan Islam secara syumul di dalam negara yang lebih susah lagi.

ILMU DAN PENDIDIKAN


(1.) Kalau orang alim tidak sedar akan kealimannya(tidak mengaku alim) ini petanda baik, tapi kalau orang bodoh tidak sedar akan kebodohannya ia sangat pelik

(2.) Bila guru dan murid tidak kekal kasih sayangnya sampai ke hujung, menunjukkan ia telah dipisahkan oleh cinta dunia.

(3.) Orang yang alim kitab tapi bukan ahli fikir laksana mempunyai emas sebesar tempayan, orang ramai tidak dapat manafaat dari emas tersebut.

(4.) Untuk menjadi alim mudah, tapi untuk menjadi hakim susah, hakim itu didapati oleh orang alim yang bertaqwa.

(5.) Buah ilmu ialah amal ibadah, buah amal adalah akhlak mulia, buah akhlak ialah Ulfah(ramah mesra).

(6.) Mengetahui itu dengan akal, dan mengenal itu dengan hati, sebab itu orang yang kenal Allah akan  takut Allah, orang yang tahu dengan Allah dia tidak rasa takut dengan Allah.

(7.) Asam garam, pahit maung di dalam hidup itu, itulah dia pengetahuan tanpa berguru tanpa universiti tanpa degree.

(8.) Orang yang berakal tanpa agama adalah sesat, orang yang beragama tanpa akal adalah beku. Kahwinkanlah antara akal dan agama, maka akan lahirlah hikmah.

(9.) Jadikanlah apa yang dilihat oleh mata itu untuk kita berfikir. Dari berfikir itu itu rasakan dalam hati kebesaran penciptaNya.

(10.) Untuk mendapat ilmu susah. Bila dapat, mengamalkannya lagi susah. Yang paling susah setelah beramal bagaimana untuk menjaga amal jangan sampai kedatangan ujub, riak, sum'ah dan lain-lainnya tapi segala-galanya akan jadi mudah bila Allah pimpin kita.


APA YANG PATUT KITA KATA

1.BILA KENA UJI DENGAN KELAPARAN, KETAKUTAN, KEKURANGAN HARTA DAN SEBAGAINYA “AKU DIHUKUM KERANA DOSAKU
AKU MEMOHON AMPUN KEPADA-MU YA ALLAH”  
.
2. APABILA TUHAN TENTUKAN SESUATU TIDAK SEPERTI YANG KITA MAHU KITA BERKATA
“AKU REDHALAH, ALLAH LEBIH BIJAKSANA DARIKU” KETENTUAN ALLAH LEBIH BAIK DARI KEHENDAKKU.
 
3.  JIKA KITA LIHAT SESEORANG ITU MEMPUNYAI KEAIBAN DAN KELEMAHAN KITA BERKATA “KASIHAN ORANG ITU, BERILAH DIA PETUNJUK YA ALLAH”

4.  JIKA SAMPAI KEPADA KITA ADA ORANG MENCACI KITA DI ATAS KEBURUKAN KITA KITA PUN BERKATA “JIKA BENAR APA YANG DIA KATA, AMPUNKANLAH DOSAKU YA ALLAH, BERILAH AKU PETUNJUK JIKA APA YANG DIKATAKANNYA ITU DUSTA, AMPUNKANLAH DOSANYA,  BERILAH DIA PETUNJUK”
 
5. JIKA ADA ORANG MEMUJI KITA DI BELAKANG ATAU DI HADAPAN KITA,KITA RASA MALU,  RASA BERDOSA MeRASA TERSEKSA JIWA KITA TIDAK TIDUR MALAM DIBUATNYA KITA BENCI DENGAN KATA-KATA ITU
PEMIMPIN DAN PIMPINAN


(1.) Seseorang pemimpin itu hendaklah berilmu dan berpengalaman, mesra, adil, pemurah, sabar dan berlapang dada

(2) Menghimpun orang untuk mendengar kebaikan adalah mudah, tetapi menghimpun orang untuk membuat kebaikan adalah payah

(3) Perbincangan antara orang yang tidak berilmu biasanya berlarutan-larutan. Perbincangan antara mereka yang sama-sama berilmu menghasiilkan  buah fikiran, tapi belum tentu diamalkan. Perbincangan antara orang-orang bertaqwa, ringkas, padat dan sama-sama dapat mengamalkan

(4) Diantara sifat-sifat pemimpin yang berjaya itu bila di tengah pengikut ia berwatak pemimpin, bila di tengah pengajian ia berwatak guru, bila berkawan berwatak sahabat, bila di tengah anak-anak berwatak aya, dan bila bersama isteri berwatak suami.

(5) Kalau kita berjaya dalam sesuatu pimpinan atau berjaya dan dapat bantuan dalam satu-satu hal jangan mudah dikaitkan dengan keutamaan diri kita kerana pernah pemuda bertemu dengan Nabi Khidir a.s. lantas bertanya: "Mengapa saya dapat bertemu tuan?". Nabi Khidir menjawab,"Dengan berkat ibumu."

(6) Memadailah seorang pemimpin itu mempunyai seorang sahabat yang setia daripada peminat yang ramai tetapi hanya mabuk dengan pidato-pidatonya.

(7) Bila seorang pemimpin hatinya berat  untuk membuat arahan  atau mendiDOA HARAPAN DAN RINTIHAN SEMOGA PANDUAN ATAU ILMU ITU MEMBERI MANAFAAT KITA BERSAMA, INSYA-ALLAH
 
Ya Allah, aku berlindung denganMu daripada ilmu yang tidak diamalkan
Aku berlindung denganMu daripada ilmu untuk kemegahan
Tuhan, ilmu itu adalah cahaya penyuluh kehidupan
Jangan pula kehidupan orang tersuluh, kehidupanku kegelapan
Tuhan, aku memohon kepadaMu janganlah ilmu itu menjadi beban
Di akhirat kelak menjadi hujjah dan saksi mengapa aku tidak amalkan
Ya Allah, aku memohon kepadaMu bertambah amalku
Jangan sampai usahaku orang lain selamat, aku tidak
Ya Allah, aku berlindung denganMu daripada ilmu untuk mujadalah
Bukan membantuku untuk beribadah dan bertaqwa
Tuhan, aku berlindung denganMu jangan sampai ilmuku melaknatku semula
Kerana bermegah-megah dan tidak amalkan
Jadikanlah aku bertambah-tambah ilmu bertambah dekat dengan Tuhan
Bertambah ilmu bertambah ibadah dan amalan
Tuhan, jadikanlah ilmuku boleh memimpin diri dan orang lain
Boleh menyuluh hatiku dan menyuluh hati orang
Seterusnya jadikanlah ilmu itu sentiasa memberi manafaat dan syafaat
splinkan terhadap seorang pengikutnya, hatinya sendiri berkata bahawa orang itu peminatnya, bukan pengikutnya.

(8) Pautan pengikut dengan pemimpin ibarat layang-layang dengan tali. Layang-layang tidak akan naik hanya menerima tangan tanpa menerima tali.

(9) Kalau seorang pemimpin itu mabuk dengan pengikut atau peminat yang ramai, alamat dia tidak akan sanggup menegur dan mendisplinkan pengikut
-pengikutnya.

(10) Kalau para pengikut pada seorang pemimpin mabuk dengan pidato dan ucapannya tapi tidak mabuk dengan amal dan akhlaknya, menunjukkan pengikutnya itu tidak boleh diharapkan.

(11) Kalau seorang pemimpin itu diikut kerana pidatonya bukan kerana akhlaknya, jangan kita menaruh harapan sangat terhadap kesetiaan mereka itu.

(12) Seorang pemimpin itu mudah mencari simpati dengan pidatonya jarang yang berjaya mendapat simpati daripada akhlak dan perbuatan baiknya. Awaslah! Dia akan bersama kita diwaktu senang saja.